Beberapa Penjelasan Demonstran Myanmar Terkait Kerusuhan yang tak Pernah Menyerah

Demonstran Myanmar Gunakan Jemuran Sebagai Penahan Serangan | Republika  Online

Alasra.org – Ratusan orang telah terbunuh di Myanmar di tengah meningkatnya tindakan kekerasan aparat terhadap para pengunjuk rasa yang menentang kudeta militer dan menuntut kembalinya demokrasi.

Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menyampaikan, lebih dari 510 orang telah terbunuh sejak kudeta.

Para pengamat meragukan kekerasan militer atau dikenal sebagai Tatmadaw, akan menghalangi para demonstran.

“Hebatnya, meskipun Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM) terdiri dari pengunjuk rasa tak bersenjata dengan pelindung dan topi timah buatan yang tipis, mereka mampu menyangkal hal-hal yang paling didambakan Tatmadaw yang ‘perkasa’: kontrol atas negara dan stabilitas ekonomi,” jelas Gwen Robinson, seorang rekan senior di Institut Studi Keamanan dan Internasional Universitas Chulalongkorn di Bangkok, dan editor-at-large di Nikkei Asian Review.

“Dengan kekuatan semangat dan keberanian mereka, mereka telah menggagalkan para jenderal, dan bagi saya itu adalah kemenangan yang signifikan,” lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera, Senin (5/4).

Myanmar memiliki populasi 54 juta di mana sekitar sepertiga berasal dari etnis minoritas.
Robinson meyakini kudeta telah membantu mempersatukan negara tersebut melawan militer.

“Anda memiliki usaha besar, masyarakat sipil, kelompok etnis, umat agama yang beragam yang menentang kudeta – itu adalah hal yang luar biasa,” jelasnya.

Dengan peringatan Robinson bahwa Myanmar bisa berakhir menjadi negara gagal dengan kediktatoran brutal yang memegang kekuasaan melalui kekuatan belaka, Al Jazeera mewawancarai lima pengunjuk rasa terkait mengapa mereka turun ke jalan dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

  • Demonstran garda depan

“Fox” mengatakan dia dan kelompoknya berunjuk rasa secara damai sampai militer mulai membunuh kawan-kawannya.

“Saat itulah ketika kami memutuskan kami akan melawan balik,” ujarnya.

Pemuda 20 tahun ini adalah anggota kelompok garda depan demonstran, dengan anggota termuda berusia 15 tahun.

“Saya membuat semua keputusan, banyak tanggung jawabnya, khususnya ketika saya bersama anak-anak ini, tapi mereka anak baik, kami tim yang baik dan baik-baik saja sejauh ini,” kata dia.

Kelompok ini mengalami banyak hal dalam beberapa pekan terakhir ini dan dipaksa lari menyelamatkan nyawa mereka dari terjangan peluru militer, setelah tentara menembak langsung ke arah mereka.

Salah satu tugas Fox adalah membangun barikade menggunakan karung pasir tapi pasukan keamanan menggunakan taktik brutal untuk menyingkirkannya. Tentara menyandera orang-orang. Mereka mengacungkan pistol kepada orang-orang yang berjalan di sekitar garis pertahanan yang mereka buat dan menawan mereka.

“Dan karena mereka memiliki tawanan ini, orang-orang di lingkungan itu tidak menyerang militer lagi karena mereka tidak ingin melukai orang-orang tak berdosa,” ujarnya.

Saat ini kelompok ini sedang dalam persembunyian, setelah seorang rekan mereka ditangkap dan ponselnya disita. Kontak Fox dan kawan-kawannya ada dalam ponsel itu.

“Mereka mengambil ponselnya, dan mereka melacak rekan di garda depan lainnya dengan informasi yang mereka dapatkan dari sana, dan anak yang ditangkap itu meninggal di dalam tahanan. Mereka membunuhnya di tahanan, mereka menyiksanya.”

Al Jazeera tidak bisa memverifikasi kematian tersebut, tapi Fox menilai pembunuhan demonstran sebagai peringatan dari militer, “ini adalah apa yang akan terjadi jika kalian tetap melakukan ini.”

Pekan lalu, saat militer memburu kelompok tersebut, mereka melarikan diri dari Yangon menggunakan bus. Kendaraan tersebut dihentikan oleh polisi delapan kali selama perjalanan menuju sebuah rumah persembunyian tapi tidak ada satu pun anggota kelompok itu yang dikenali.

“Setiap orang takut disiksa atau dibunuh, tapi pada saat bersamaan lebih menakutkan memikirkan apa yang akan militer lakukan jika mereka memenangkan ini, dan ini yang tidak dipahami oleh generasi yang lebih tua saat ini,” jelasnya.

“Mereka terus mengatakan” ‘Jangan, jangan keluar sekarang, bahaya’, tapi kalau kami tidak keluar sekarang dan memperjuangkan ini, ini akan berbahaya untuk sisa hidup kami.”

  • Mata-mata

Thet mengatakan dia mendukung Gerakan Pembangkangan Sipil melalui aktivisme online, akun Instagram dan memata-matai militer.

“Saya mengumpulkan, meringkas, dan membagikan informasi. Saya punya sepeda dan saya pergi menyelidiki setiap pagi untuk mengidentifikasi pola pergerakan militer dan daerah mana yang akan dihantam paling keras,” ujarnya.

Dia juga menghitung jumlah korban yang dibunuh militer dan rincian personal korban. Dia juga mencari pengunjuk rasa yang hilang.

“Staf di penjara lokal – yang membahayakan nyawa mereka – kadang-kadang memberikan informasi tentang pengunjuk rasa yang ditangkap,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Aktivis perempuan berusia 20-an ini mengatakan dia membangun sebuah jaringan koneksi untuk menemukan rumah singgah aman untuk para pemimpin unjuk rasa yang harus bersembunyi.

“Orang yang bekerja dengan saya belum tertangkap, dan saya harap akan terus begitu.”

Thet memuji kreativitas para pengunjuk rasa dan kejenakaan gerakan pembangkangan sipil.

“Saya punya cinta dan hormat yang besar pada warga kami, ada beberapa cara yang saya pikir negara kami penuh komedian yang menyenangkan yang berusaha menghidupkan segala yang mereka kerjakan,” ujarnya.

“Kami punya sebuah spanduk yang sangat orang Burma: ‘Kita akan menang, mungkin tidak segera, tapi pasti kita akan menang’.”

Thet mengatakan, di tengah eskalasi kekerasan, para pengunjuk rasa menulis “surat kematian” kepada keluarga mereka dan masyarakat untuk mendorong masyarakat terus melawan para jenderal.

Biasanya para pelayat mempersembahkan makanan untuk Buddha dan para biksu ketika seseorang meninggal agar roh mereka damai tapi para demonstran anti kudeta ingin dilakukan hal berbeda jika mereka terbunuh.

“Mereka menulis: ‘Jangan lakukan itu, bahkan dalam kematian aku masih akan ada di samping kalian sampai kalian menang. Tolong jangan persembahkan makanan, saya masih ingin tetap tinggal dan berjuang. Saya tidak akan bergerak sampai kita menang’.”

Thet juga menulis surat kematiannya sendiri dan menyampaikan kepada orang yang dia percayai di mana dia menyimpan surat itu. Dalam suratnya dia meminta jasadnya dilindungi.

“Saya ingin menyumbangkan organ saya kepada orang yang memerlukan, bukan untuk mereka yang akan jatuh ke tangan militer yang akan menjualnya untuk alasan egois mereka.”

Leave a Reply