Cerita Demonstran Myanmar yang di Siksa Oleh Junta Militer Myanmar

Tiga Jam dalam 'Ruang Neraka', Cerita Demontsran Myanmar Ditangkap & Disiksa  Tentara | merdeka.com

Alasra.org – Seorang pengunjuk rasa di Myanmar mengatakan dia ditangkap tentara selama tiga jam sebagai bagian tindakan keras terhadap para penentang kudeta militer, mengungkapkan kejamnya perlakukan aparat di mana dia dipukul menggunakan ikat pinggang, rantai, batang bambu, dan tongkat.

Ini merupakan cerita orang pertama yang langka terkait perlakukan terhadap para aktivis yang ditahan. Pria tersebut mengungkapkan kepada Reuters, dia salah satu dari sekitar 60 orang yang dibawa pada Selasa (9/3) oleh polisi di Myeik, kota pesisir selatan, ketika dia bersembunyi di dalam sebuah rumah setelah unjuk rasa dibubarkan polisi.

Seorang juru bicara militer tak menjawab panggilan telepon untuk diminta komentarnya terkait pengakuan pria ini. Kantor kepolisian Myeik juga tidak menjawab panggilan telepon.

Sebelumnya tentara berdalih pihaknya menangani para pengunjuk rasa sesuai aturan.

Pria tersebut menyertai foto yang menunjukkan luka-lukanya di punggung, leher, dan pundaknya. Foto-foto tersebut dipotret oleh keluarganya. Reuters telah memverifikasi bahwa foto-foto tersebut benar merupakan si pria dan keluarganya yang mengambil gambarnya.

Reuters berbicara dengan pria tersebut melalui telepon, tapi tak bisa memverifikasi pengakuannya.

‘Ruangan neraka’

Dia mengatakan, para pengunjuk rasa ditempatkan dalam sebuah truk dan diserahkan ke tentara di pangkalan udara Myeik, di mana para pria dipisahkan dari para perempuan, difoto, dan dibawa ke sebuah ruangan. Pria ini berbicara dalam kondisi anonim karena takut ditangkap lagi.

Reuters tak bisa menghubungi pangkalan udara tersebut untuk dimintai komentar.

“Kami dipukul sepanjang waktu bahkan saat kami berjalan ke ruangan tersebut,” ujarnya, dilansir The Straits Times, Kamis (11/3).

“Kata para tentara, ‘Ini ruangan neraka, mengapa kalian tak merasakannya?’”

Dia diperintahkan berlutut dan lima orang dari kelompok tersebut diminta saling menghadap satu sama lain sementara mereka dipukul di punggung, kepala, leher, dan bagian samping tubuh mereka.

Pria ini mengatakan, dia kemudian dibebaskan bersama beberapa orang lainnya tanpa penjelasan. Beberapa orang lainnya secara resmi ditangkap dan dipenjara.

Reuters juga tak bisa menghubungi pihak lapas untuk dimintai komentarnya.

32 orang ditangkap

Pyae Phyo Aung, mantan anggota persatuan mahasiswa di Myeik yang telah menghubungi para pengunjuk rasa yang dibebaskan, mengatakan kepada Reuters 32 orang ditangkap dalam insiden tersebut, menurut sebuah daftar yang dia bantu kumpulkan untuk kelompok masyarakat sipil. Dia mengatakan melihat pengunjuk rasa lain dengan luka-luka di punggung dan pinggangnya.

“Ketika saya bertemu dengannya, dia bahkan tak bisa duduk,” ujarnya.

“Dia berbaring telungkup karena luka-luka di pinggangnya.”

Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak angkatan darat menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dalam kudeta 1 Februari dan menangkapnya serta politikus lainnya.

Militer menuduh pemilu November 2020 yang dimenangkan secara telak oleh partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) berlangsung curang. Setelah kudeta, militer berencana akan menggelar pemilu baru, tapi tanggalnya belum disampaikan secara spesifik.

Pasukan keamanan telah meningkatkan tindakan kerasanya terhadap peserta unjuk rasa yang berlangsung setiap hari di seluruh negeri, dan lebih dari 60 pengunjuk rasa telah terbunuh dan 1.900 orang ditangkap sejak kudeta, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Reuters tak bisa mengonfirmasi angka tersebut secara independen.

Sedikitnya dua orang, keduanya merupakan pejabat NLD, meninggal dalam tahanan sejak Sabtu lalu setelah ditangkap, menurut sumber dari partai tersebut. Namun penyebab kematian mereka belum diketahui.

Militer pun belum mengomentari hal ini.

Leave a Reply