Pertumpahan Darah Terus Berlanjut di Myanmar

Detik-detik Polisi Myanmar Beralih Mendukung Demonstran Penentang Kudeta

Alasra.org – Jakarta, Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Myanmar mengecam keras pertumpahan darah yang terus berlanjut di Myanmar setelah puluhan pengunjuk rasa tewas dalam salah satu hari paling mematikan sejak kudeta 1 Februari di negara itu.

“Komunitas internasional, termasuk para aktor regional, harus bersatu dalam solidaritas dengan rakyat Myanmar dan aspirasi demokrasi mereka,” kata Christine Schraner Burgener dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP, Senin (15/3/2021).

Utusan khusus PBB itu mengatakan militer Myanmar mengabaikan seruan internasional untuk menahan diri. Dia mengatakan dirinya telah mendengar “laporan pembunuhan yang memilukan, penganiayaan terhadap demonstran dan penyiksaan tahanan” dari sumber-sumber di dalam negara Asia Tenggara itu.

“Kebrutalan yang sedang berlangsung, termasuk terhadap personel medis dan penghancuran infrastruktur publik, sangat merusak prospek perdamaian dan stabilitas,” tuturnya.

Sebelumnya pada Minggu (14/3) malam waktu setempat, junta militer Myanmar memberlakukan darurat militer di dua kota padat penduduk di Yangon, yakni kota besar Hlaing Tharyar dan kota Shwepyitha.

“Junta memberikan kekuasaan administratif dan peradilan darurat militer kepada komandan regional Yangon, untuk melakukan keamanan, menjaga aturan hukum dan ketenangan dengan lebih efektif,” kata penyiar media pemerintah.

Lebih dari 80 orang telah tewas dalam protes massal sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan. Korban jiwa kembali berjatuhan dalam kekerasan berdarah yang terjadi pada Minggu (14/3) kemarin.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah tentara dan polisi melakukan tindakan keras hampir setiap hari terhadap para demonstran yang menyerukan kembali ke demokrasi.

Aparat melepaskan gas air mata dan menembakkan peluru karet dan peluru tajam untuk memadamkan protes antikudeta.

Junta Myanmar berulang kali membenarkan perebutan kekuasaannya dengan menuduh terjadinya kecurangan pemilu, yang dimenangkan dengan telak oleh partai Suu Kyi, Liga Demokrasi Nasional (NLD).

Leave a Reply