Politikus Nasdem Tanggapi Megawati: Saya Tak Sepakat Jakarta Dikatakan Amburadul

Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri menyebut Jakarta menjadi kota yang pembangunannya amburadul. Sehingga tidak menyabet penghargaan Kota Mahasiswa atau City Of Intellectual yang disabet oleh Semarang, Solo, dan Surabaya.

Dia juga menyayangkan Kota Jakarta tempat kampus UNJ berada tidak masuk kategori city of intellectual. Sebab, ‘Kota Mahasiswa’ pertama kali disebut Soekarno saat menandatangani prasasti gedung UNJ di tahun 1953.

“Sekarang Jakarta ini jadi amburadul. Seharusnya (Jakarta) jadi city of intellectual. Tata kota dan masterplan siapa yang buat? Tentu akademisi, insinyur, dan sebagainya,” kata Megawati saat berpidato di acara dialog kebangsaan yang digelar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa, (10/11).

Politisi senior Partai Nasdem, Bestari Barus merasa tidak terima bila anak sang proklamator tersebut menyebut pembangunan Jakarta semakin amburadul. Mantan anggota Komisi D Bidang Pembangunan DKI Jakarta justru mengatakan bahwa pembangunan Jakarta semakin membaik setiap tahunnya.

“Jika dikatakan Jakarta amburadul, saya tidak sepakat dengan hal itu. Dari zaman terdahulu sampai sekarang, pembangunan di Jakarta meningkat. Terbukti dengan alokasi APBD, itu kan peruntukannya untuk pembangunan, jadi tidak mungkin pembangunan yang terdahulu itu tidak ada peningkatannya,” kata Bestari saat dihubungi merdeka.com, Selasa (10/11).

Selain itu, Jakarta juga mendapatkan penghargaan Sustainable Transport Award 2021. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan bukti bahwa pembangunan Jakarta semakin membaik dan tidak amburadul.

Dia malah menyayangkan kriteria penghargaan City Of Intellectual yang dinilai tidak sebanding. Menurutnya, setiap kota di Indonesia tidak bisa disamaratakan keunggulannya atau kekhususannya.

“Saya kira harus lebih bijak dalam memberikan predikat terhadap kota-kota ini karena memang kekhususannya berbeda. Seperti Yogyakarta itu kota pelajar, tidak bisa dibandingkan dengan Jakarta yang mendapatkan penghargaan internasional dalam transportasi publiknya. Tidak apple to apple,” kata dia.

Politisi yang sempat berseteru dengan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, alasan Jakarta tidak menyabet penghargaan City Of Intellectual dikarenakan Jakarta memang bukanlah kota pelajar seperti Yogyakarta. Dia menyebut, Jakarta adalah pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Hal ini yang membuat Universitas besar di Indonesia berada di luar wilayah administrasi DKI Jakarta.

Menurutnya, Jakarta terlalu penuh dengan hiruk-pikuk, belum lagi sering kali ada demonstrasi besar-besaran yang membuat seolah jakarta tidak terlalu aman jika dibandingkan dengan Solo.

“Pusat pendidikan lebih banyak di daerah. Misalnya Universitas besar seperti UI, itu pertama kali (dibangun) di Salemba, nah sekarang pusatnya jadi di Depok. Biarlah daerah itu menjadi daerah pendidikan karena lebih tenang dan sepi. Jakarta banyak traffic yang menimbulkan stres,” ujarnya.

Selain itu, biaya hidup di Jakarta juga tidak akan bisa terjangkau seperti di Solo, Semarang, atau Surabaya. Sebab, kata Bestari, Jakarta merupakan Ibu Kota dan pusat perekonomian Indonesia. Biaya hidupnya jelas lebih mahal.

“Kalau saya punya anak atau keponakan, saya lebih tenang kalau mereka kuliah di daerah Solo atau Malang yang lebih terjangkau dan tidak terganggu hingar bingar seperti Jakarta,” ujarnya.

Seperti yang diketahui, dalam kriteria City Of Intellectual, disebutkan bahwa suatu kota harus memiliki minimal dua perguruan tinggi bereputasi baik yang melayani masyarakat kota dengan jumlah penduduk 250 ribu jiwa.

Kriteria kedua adalah kehadiran mahasiswa internasional dengan pertimbangan bahwa kota itu ramah terhadap segala perbedaan.

Selain itu, kota tersebut harus memiliki aspek keterjangkauan terkait biaya kuliah, biaya hidup, dan akses bepergian.

Kota tersebut juga harus aman, nyaman, minim dari konflik, indah, dan terdapat banyak peluang pekerjaan.

Oleh sebab itu, Bestari berharap kedepannya penghargaan apapun yang akan diberikan kepada suatu kota haruslah memiliki kriteria yang sebanding. Namun yang terpenting kata dia, setiap kota harus saling bersatu. Saling menghargai dan mendukung perbedaan yang ada.

“Harus objektif dan rasional juga. Penilaian terhadap keberhasilan suatu kota tidak bisa disamaratakan. Republik Indonesia ini menjadi satu kesatuan kita tidak perlu membandingkan satu kota dengan yang lain,” kata Bestari.